tulis saja, walau sedikit, apa saja..

Tampilkan postingan dengan label aantekening - catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aantekening - catatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Juli 2013

Kebutuhan Mendesak dan Solusi Jangka Panjang BBM

Sumber: http://whatindonews.com

Entah siapa yang paling benar, polemik kenaikan harga BBM bersubsidi meninggalkan adu argumen di antara kedua belah pihak yang saling bertarung logika: koalisi pemerintah versus oposisi. Keduanya sama-sama mengaku sebagai pembela masyarakat, sama-sama menuangkan kalimat “demi rakyat” agar simpati tak melayang. Bau-bau politik kian menyengat sepekat aroma bensin, mengingat isu sentral ini meluncur ketika umat Indonesia serempak menghitung mundur atas helatan Pemilu di tahun 2014 nanti.

Tapi, sudahlah, toh pemerintah juga telah ketok palu, bahwa BBM jadi naik. Harga premium digenjot menjadi Rp. 6.500 per liter, sedang solar menjadi Rp. 5.500. Konon, harga BBM ini terpaksa dinaikkan karena subsidi pemerintah terhadap BBM yang tidak tepat sasaran. Tingkat konsumsi masyarakat miskin terhadap penggunaan BBM jauh berada di bawah orang-orang kaya. Intinya, keringanan biaya seliter premium atau solar justru lebih sering digunakan oleh mereka yang sejahtera.

Permasalahan baru kemudian muncul. Kenaikan harga BBM mampu membangunkan harga-harga berbagai komoditas untuk ikut naik. Lebih-lebih pelaksanaan tarif baru BBM tersebut disahkan menjelang bulan puasa dan tak lama sebelum tahun ajaran baru dimulai. Agar dapur tetap ngepul, maka subsidi BBM yang urung digunakan tadi dialokasikan ke dalam berbagai jenis kompensasi melalui Program Percepatan dan Perluasan Perlindungan Sosial (P4S). Tentunya, program ini juga ditujukan kepada rumah tangga berstatus sosial ekonomi rendah. Rakyat kenyang, pemerintah senang.

Tapi mau sampai kapan hal yang demikian diberlakukan? BBM merupakan salah satu sumber daya alam yang tak dapat diperbarui. Keberadaannya semakin lama akan semakin berkurang. Bukan tidak mungkin, di suatu saat nanti alasan pemerintah menaikkan harga BBM tidak lagi karena permasalahan subsidi yang tidak tepat sasaran, tapi lebih kepada permasalahan ketersediaan BBM yang semakin hari pasti akan semakin berkurang. Produksi terus menurun, sementara kenaikan jumlah konsumsi semakin tak terbendung, akibatnya harga BBM dengan amat mudah melambung tinggi.

Boleh jadi BLSM diciptakan pemerintah sebagai jawaban atas kenaikan harga BBM. Tapi itu sifatnya hanya sementara, yang diganjar hanya dengan Rp. 150.000 per rumah tangga sasaran dengan durasi lima bulan. Setelah lima bulan, apa mereka-mereka yang berhak ini akan tetap “disuapi”?

Betul memang, masih ada model kompensasi lainnya. Tapi semuanya seragam, sifatnya hanya bantuan, tak tahan lama. Peluh pemerintah dalam mengakali akan hadirnya berbagai bantuan seperti tak diimbangi dengan usaha pemerintah dalam mencari jalan keluar yang bersifat pencegahan. Langkah preventif pemerintah seakan kalah pamor–atau malah memang tidak ada–bila dibandingkan dengan gerakan sosialisasi pemerintah atas berbagai macam program kompensasi akibat kenaikan BBM.

Bisa saja, sebagian alokasi pemotongan subsidi tadi direlokasikan kepada penelitian tentang sumber daya alternatif pengganti BBM. Sehingga, walau di masa depan nanti Indonesia benar-benar nyata terkena krisis BBM, kita sudah siap sedia dengan penemuan-penemuan terbaru yang bersifat substitusi. Walaupun harga BBM membumbung tinggi sekalipun, dampak yang dirasakan nanti tak akan terlalu signifikan. Atau pemerintah dengan dana subsidi tadi bisa lebih concern menciptakan program-program yang mampu mengurangi ketergantungan atau bahkan menekan lajunya kebutuhan masyarakat akan BBM. Hal ini bisa didukung melalui produksi massal kendaraan-kendaraan yang menggunakan bahan bakar listrik. Selama ini, kehadiran mobil atau sepeda motor listrik di tanah air hanya menggaung sepintas waktu. Kalau pemerintah mau serius, ini bisa menjadi sebuah langkah dinamis bagi kebaikan bangsa. Selanjutnya, untuk menekan daya konsumsi BBM, pemerintah perlu mengetatkan jumlah produksi kendaraan bermotor berbahan bakar minyak, serta sebaliknya meningkatkan kualitas maupun kuantitas moda transportasi darat di Indonesia. Dengan begitu, minat masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum akan semakin meninggi. Seiring dengan hal tersebut, pelan namun pasti, populasi kendaraan pribadi di jalan raya akan berkurang dominasinya, sehingga secara tak langsung penggunaan BBM juga akan cenderung kian menurun.

Sebenarnya, kalau pemerintah mau membagi fokusnya antara kebutuhan mendesak dengan solusi jangka panjang, pasti akan membawa faedah yang lebih baik. Tindakan pencegahan tetap jauh lebih berdaya guna daripada melatih segelintir orang untuk terus nyaman di zona sosial ekonomi rendahnya.


Salam.
Read More

Rabu, 27 Maret 2013

Dari Sendanu Darul Ihsan, untuk Sebuah Pengalaman yang Berharga


Kata orang, hidup di Riau itu enak. Negerinya kaya raya. Ladang sawit dimana-mana, minyak bumi pun tak henti-hentinya memata-air. Kalau orang-orang kampung bilang, Riau ini penuh sesak dengan minyak: di atas minyak (kelapa sawit), di bawah minyak (minyak bumi). Belum lagi “harta” yang diperoleh dari berbagai sumber lainnya semacam pertanian (tercakup juga di dalamnya perkebunan, peternakan dan perikanan). Mungkin, hal ini yang turut menjadikan Riau sebagai salah satu provinsi penghasil Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) terbesar se-Indonesia. Kalau kita mau lebih perdalam lagi bahasannya ke beberapa indikator seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Kemiskinan dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), tampaknya Riau juga masih cukup lebih baik bila dibandingkan dengan banyak provinsi lainnya.

Daaan, entah karena pertimbangan ini pula Riau menjadi salah satu pilihan penempatan favorit para lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). Mungkin mereka beranggapan bahwa dengan baiknya segi perekonomian yang dimiliki oleh suatu daerah, maka semakin ideal pula untuk dijadikan sebagai daerah perantauan. Ideal disini dapat mengakomodir beberapa kriteria berikut: pembangunan di berbagai bidang yang menduduki level di atas rata-rata, masyarakat yang maju dan modern, dan lain-lain. Tidak hanya faktor perekonomian yang dapat menjadi daya magnet bagi pendatang baru di Riau. Dari segi geografis, letak Riau juga sangat strategis (berada di bagian tengah Pulau Sumatera) dan memiliki kontur alam yang sangat “bersahabat”. Letaknya yang berada di wilayah non pegunungan (dataran rendah), praktis hanya terteror bencana yang berpeluang tercipta oleh gelombang lautan di daerah pesisir, mulai dari Kabupaten Rokan Hilir-Kota Dumai-Kabupaten Bengkalis-Kabupaten Kepulauan Meranti-hingga ke Kabupaten Indragiri Hilir. Dan kesemua daerah itu pun menghadap ke laut bagian dalam (ke arah timur), yang konon tak seganas laut barat maupun laut selatan.

Secara pribadi saya menilai, memang tepat sekali bila Riau dijadikan sebagai wilayah idaman bagi para perantau. Namun, di balik keunggulan yang dimiliki oleh Riau itu, ternyata belum semua “etalase” yang memamerkan kemeriahan pembangunan di berbagai bidang. Salah satu “etalase” itu ialah Desa Sendanu Darul Ihsan, Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti.

--

Tanggal 14 Maret yang lalu saya sempat berkunjung ke Desa Sendanu Darul Ihsan, salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Tebing Tinggi Timur. Letaknya kurang lebih satu setengah jam perjalanan dari Selatpanjang, ibukota Kabupaten Kepulauan Meranti. Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka pencacahan lapangan Susenas untuk triwulan pertama. Targetnya, di satu hari kunjungan tersebut, kami satu tim (saya dan dua orang mitra) berhasil mencacah sepuluh rumah tangga sampel. Mengingat cost yang minim, dan memang pada dasarnya kami tidak nyaman untuk bermalam di desa orang, pekerjaan hari itu kami tekadkan untuk selesai di hari itu juga.

Perjalanan kesana hanya bisa ditempuh lewat air. Ironinya, Desa Sendanu Darul Ihsan ini letaknya berada di pulau yang sama dengan Selatpanjang, yakni Pulau Tebing Tinggi. Untuk menuju ke daerah Kecamatan Tebing Tinggi Timur, akses darat yang tersambung hanya mencapai Desa Sungai Tohor, itupun jalan yang mesti dilalui kondisinya amburadul. Untuk menuju ke Desa Sendanu Darul Ihsan ini, kami menumpang speed boat Era Mandiri. Sejatinya, kapal ini berute Selatpanjang-Tanjung Balai Karimun-Batam. Namun kapal juga bisa di-request untuk berhenti di sepanjang daerah perairan yang dilalui, bila kita ingin turun di daerah tersebut. Tapi jangan harap kapal ini akan menurunkan kita ke tepian! Kapal hanya akan bersandar untuk menaik-turunkan penumpang di pelabuhan-pelabuhan tertentu saja. Untuk kasus perjalanan ke Desa Sendanu Darul Ihsan ini, kami meminta kapal untuk berhenti di lepas pantai Desa Nipah Sendanu (akses darat terdekat untuk menuju Desa Sendanu Darul Ihsan). Nah, di tengah laut barulah kami berganti ke kapal pompong (sejenis kapal kayu yang memiliki panjang sekitar lima hingga delapan meter, bermesin tunggal biasanya). Begitu pintu speed boat dibuka, sudah ada kapal pompong yang merapat ke badan speed boat. Dengan sedikit ayunan kaki, kita harus melompat ke atap kapal pompong! Ajiiib! Nasib kami itu bahkan lebih baik. Bahkan ada seorang ibu-ibu yang turun di tengah laut, namun ia berganti ke sebuah sampan bermotor. Haduh, naik sampan di tengah laut, nggak kebayang deh! Saya jadi teringat dengan pasar terapung yang ada di Kalimantan sana. Bedanya, yang dioper-oper di tengah-tengah perairan mungkin cuma sayur dan kawan-kawan, tapi ini manusia. Hehehe.. Oh ya, untuk bisa dijemput oleh kapal pompong ini, sebelumnya kita harus bikin janji terlebih dahulu dengan si pemilik kapal.

Dua orang mitra, Bang Ucok dan Bang Ujang


Bagian geladak depan kapal pompong



Dari pelabuhan kecil di Desa Nipah Sendanu, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan sepeda motor. Sebenarnya, Desa Sendanu Darul Ihsan ini merupakan wilayah pemekaran dari desa induknya, Desa Nipah Sendanu. Makanya, jarak kedua desa ini tidak terlalu jauh. Waktu itu kami menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, dengan catatan kondisi jalanan pada saat itu tidak begitu baik. Jalan-jalan desa yang terbentang tidak terbuat dari aspal, melainkan dari semen yang diratakan. Karenanya, jalanan menjadi tidak awet, sehingga banyak terdapat lubang dimana-mana. Belum lagi kondisi yang diperparah dengan adanya musim kemarau, sehingga jalanan yang rusak menerbangkan debu kemana-mana. Dengan kondisi jalanan yang seperti itu, praktis kendaraan bermotor yang dimiliki warga menjadi cepat rusak, terutama pada bagian shock breaker­-nya. Bisa dibayangkan, melewati jalanan desa yang cukup banyak lubangnya dan debu bertebaran dimana-mana dengan menumpangi sepeda motor yang shock breaker-nya nyaris tidak membal sama sekali, cukup membuat pantat saya menjadi kebas dan muka menghitam mirip Dakocan! Hahaha..

Dan pada akhirnya, setelah melewati medan yang cukup edan, sekitar pukul sembilan kurang sepuluh menit, tim sampai di wilayah Desa Sendanu Darul Ihsan. Di sebuah persimpangan jalan, tim berpencar menuju rumah tangga-rumah tangga sampel yang telah ditentukan sebelumnya. Setiap satu orang bertanggungjawab atas sekian rumah tangga sampel.

Menurut informasi yang saya peroleh dari si penunjuk jalan, di Desa Sendanu Darul Ihsan sendiri terdapat kurang lebih tiga ratus kepala keluarga. Mayoritas penduduk bersuku melayu. Saya yang kurang begitu fasih bercakap melayu terpaksa kadang-kadang harus mengernyitkan dahi bila si responden mengeluarkan kata-kata yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Kadang saya menjadi malu sendiri, lahir dan besar di Bumi Melayu, tapi malah lebih mahir berlogat Minang. Hihi..

Seharian berkeliling di Desa Sendanu Darul Ihsan, membuat saya sedikit tahu mengenai gambaran desa ini. Kebanyakan penduduk bekerja di sektor perkebunan, umumnya terkonsentrasi pada jenis kelapa dan karet. Karenanya, desa ini menjadi begitu teduh. Pokok kelapa tumbuh dimana-mana, sedangkan untuk karet, areal perkebunannya berada agak jauh dari pemukiman penduduk.

Suasana Desa Sendanu Darul Ihsan



Untuk kondisi sumber air, memang menjadi persoalan yang merata di berbagai daerah di Kabupaten Kepulauan Meranti, tak terkecuali di desa ini. Untuk keperluan MCK (mandi, cuci, kakus), penduduk lokal mengandalkan sumur yang warna airnya bisa dikatakan kemerah-merahan. Menurut pengakuan beberapa orang yang pernah saya tanyai, justru “air merah” ini yang paling bagus digunakan untuk mandi. Konon, mandi dengan menggunakan air ini badan akan terasa lebih segar.

Contoh penampakan "air merah"



Menjelang salat zuhur, kami semua kembali bertemu di lokasi yang telah ditentukan, dengan masing-masing membawa hasil pencacahannya. Sehabis menunaikan ibadah salat zuhur dan makan siang, kami sudah stand by di pelabuhan Desa Nipah Sendanu guna menunggu kapal yang akan membawa kami balik ke Selatpanjang. Nah, ketika sedang menunggu itulah perut saya tiba-tiba berulah. Hasrat untuk segera menunaikan “hajat” tidak lagi dapat dibendung. Akhirnya, dengan meminjam sepeda motor seorang ibu-ibu pemilik warung, saya pun langsung tancap gas menuju rumah warga terdekat. Hop! Dan saya pun mendapat mangsa, saudara-saudara! Seorang ibu-ibu tua sedang duduk-duduk manis di depan rumah panggungnya. Dengan gaya yang sok kenal, saya pun menghampiri ibu tersebut. Tanpa basa-basi lagi, akhirnya saya mengutarakan niat saya. Mungkin, karena pada dasarnya saya ganteng, walau saya bertamu hanya untuk meminjam toiletnya saja, si ibu tadi tetap sumringah. Hahaha..

Jangan harap, toilet di desa sama baiknya dengan yang ada di kota. Khusus tempat untuk BAB-nya, bangunannya berada terpisah dengan bangunan rumah. Jadi kita harus mengangkut air terlebih dahulu dari sumur menuju “liang eksekusi”. Hahaha.. Di dalam toilet pun juga tidak terpasang lampu. Jadi, ketika kita sedang melaksanakan “ritual”, ya harus bisa mengandalkan naluri: naluri melorotin celana, naluri memasang kuda-kuda ketika hendak melakukan posisi jongkok, naluri nyebok yang apakah sudah dibasuh sampai bersih atau belum. Sensasi bok*r di kegelapan siang bolong memang cukup memacu adrenalin saya sepertinya. Hiii..

Setelah perut entengan, saya bergegas kembali ke pelabuhan Nipah Sendanu karena khawatir tertinggal kapal satu-satunya yang menuju ke Selatpanjang. Dengan cara dan kapal yang sama dengan yang tadi pagi, sekitar pukul setengah tiga, kami kembali menuju Selatpanjang. Fiuh!

Suasana sore di Pelabuhan Nipah Sendanu

Menuju ke lepas pantai menumpang kapal pompong

Speed boat mendekat ke kapal pompong


Seorang penumpang yang naik dari tengah laut

--

Ketahuilah, tidak semua wilayah di luar Pulau Jawa itu baik lagi maju sama rata. Tidak! Walau di provinsi yang bisa dikatakan sejahtera sekalipun. Tapi hikmahnya, ketika kita pernah mengabdi di daerah-daerah “sulit”, rasa bersyukur yang kita miliki menjadi lebih mengakartanah.

Salam.
Read More

Jumat, 25 Januari 2013

Persoalan Lampu Merah Pekanbaru


Sudah sebulan belakangan ini penulis saban hari melewati Jalan Harapan Raya/Haji Imam Munandar untuk pulang-pergi dari dan menuju kantor yang letaknya berada di sekitar jantung Kota Pekanbaru. Dari rumah–yang berlokasi di seputaran wilayah Kelurahan Tangkerang Timur–setidaknya penulis melalui dua buah lampu lalu lintas, yang mana kedua lampu lalu lintas tersebut kabarnya tak kurang baru sekitar setahunan yang lalu berdiri.

Namun tampaknya, keefisienan kedua lampu lalu lintas tersebut–bersama dengan lampu lalu lintas yang berada di persimpangan Jalan Haji Imam Munandar dan Jalan Pontianak–sedikitnya menghadirkan tanda tanya tersendiri di tengah-tengah masyarakat. Ada yang berpendapat bahwa lampu-lampu lalu lintas itu tidak cukup mampu mengatur ketertiban pengguna kendaraan bermotor di jalan raya, atau bahkan malah menimbulkan keruwetan lalu lintas yang meraja. Cobalah lihat, walau mau ada lampu lalu lintas sekalipun, nyatanya macet tak mampu jua dielak. Begitulah sekiranya celotehan dari beberapa karib kerabat.

Namun agaknya, argumentasi tersebut sedikit terburu-buru. Sekarang mari coba kita ambil sisi positifnya. Jumlah penduduk di Kota Pekanbaru semakin lama akan semakin meningkat. Dengan jumlah penduduk yang semakin membesar, maka tingkat pembelian barang berupa kendaraan bermotor juga berpeluang untuk bertambah dari waktu ke waktunya. Kalau misalnya di 10 tahun yang lalu hanya ada 100 mobil dan sepeda motor yang melintasi Jalan Haji Imam Munandar, mungkin kini ada ribuan kendaraan, atau jumlah itu bisa meningkat hingga mencapai puluhan ribu di 30 atau 40 tahun yang akan datang.

Apa artinya? Dengan banyaknya jejalan kendaraan yang melintasi sebuah jalan, tentu akan lebih baik bila ketertibannya diatur dengan hadirnya tiang-tiang lampu lalu lintas. Mungkin kalau dulu jumlah kendaraan masih sedikit, sehingga bila tak diatur oleh lampu lalu lintas pun tak akan jadi soal. Mereka yang melewati setiap persimpangan akan lebih leluasa karena jarang ada lawan dari sisi-sisi persimpangan yang lainnya. Kalau pun ada dan pada akhirnya menimbulkan keadaan saling silang antar kendaraan, maka tidak akan melahirkan kemacetan yang serius, sebab jumlah kendaraan yang terhadang pun hanya sedikit–karena memang jumlah kendaraan pada waktu dulu juga tak banyak.

Lain dulu lain sekarang. Bila boleh dibandingkan, menurut pengamatan penulis, jumlah kendaraan yang beredar di Pekanbaru pada saat ini tampaknya bertambah berpuluh-puluh kali lipat. Beberapa ruas jalan yang dulunya terbebas dari kemacetan, kini tampak berubah. Di seputaran Jalan Jendral Sudirman misalnya, mulai dari depan Mal Pekanbaru sampai ke Pasar Sukaramai, arus lalu lintas acap kali tersendat di beberapa titik.

Jadi, keputusan pemerintah setempat dalam menambahkan beberapa buah lampu lalu lintas di berbagai titik di Kota Pekanbaru patut penulis apresiasi. Keputusan yang dibulatkan tersebut tak ayal sebagai sebuah tindakan preventif demi menanggulangi kesemrawutan di jalan raya yang berpeluang muncul dan meluas dalam beberapa masa yang akan datang. Namun bila nyatanya masih saja terjadi antrean kendaraan pada sebuah persimpangan lampu lalu lintas, bukan berarti kesalahan terdapat pada keberadaan lampu lalu lintas tersebut, tapi harus diperhatikan pula jumlah kendaraan yang melintas serta jumlah ruas jalan yang ada. Jadi, logikanya tidak boleh terbalik. Bukan karena ada lampu lalu lintas jalanan-jalanan jadi macet, namun ketertiban di jalan raya lah yang setidaknya bisa diatur dengan hadirnya lampu lalu lintas. Suai?

Salam.
Read More

Rabu, 09 Januari 2013

RSBI dan Smandel


Hari Selasa yang lalu (08/01/2013), Mahkamah Konstitusi (MK) akhirnya resmi memutuskan kasus mengenai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang sebenarnya telah diajukan sejak bulan Desember 2011 lalu. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, MK mengabulkan permohonan si penggugat agar “label” RSBI yang selama ini tersemat di beberapa sekolah yang berada di berbagai daerah dapat dihapuskan.

MK berasumsi bahwa keputusan tersebut dilatarbelakangi oleh berbagai alasan yang cukup subjektif–bagi penulis. Pertama, timbulnya kastanisasi antara RSBI dan non RSBI (sekolah reguler). Kedua, dengan biaya pendidikannya yang lebih mahal dari sekolah reguler, RSBI “mengancam” peluang bagi anak-anak cerdas yang berasal dari kalangan yang kurang mampu untuk dapat melanjutkan pendidikan di sana. Artinya, timbul diskriminatif bagi golongan tertentu. Ketiga, di RSBI juga diterapkan penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan. MK berkesimpulan bahwa hal tersebut secara tidak langsung dapat mengikis jati diri bangsa dan melunturkan kebanggaan generasi muda terhadap penggunaan dan pelestarian Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa.

Ingat RSBI, Ingat Smandel

Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 8 Pekanbaru merupakan salah satu RSBI (atau malah sudah menjadi SBI–Sekolah Bertaraf Internasional, red) yang ada di Kota Pekanbaru. Dari dulu sekolah ini memang selalu menjadi primadona bagi calon siswa baru. Di masa-masa ketika saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas, smandel (sebutan “gaul” untuk SMAN 8) selalu menjadi sekolah favorit, bersanding dengan SMAN 1 dan SMAN Plus.

Dulu mungkin smandel hanya memiliki kelas akselerasi (percepatan) sebagai wadah bagi anak-anak yang memiliki keunggulan dari segi intelektualitas. Namun, akhir-akhir ini saya mendengar istilah-istilah baru semisal Kelas Internasional (KI), yang menggambarkan bahwa telah terjadinya dinamika proses pendidikan di almamater penulis. Perkembangan juga terjadi pada proses perekrutan calon siswa, yang mana perekrutannya dilakukan dengan cara melalui beberapa buah tes. Sebagai informasi tambahan, untuk sekolah reguler, perekrutan dilakukan tanpa melalui tes, hanya diseleksi berdasarkan nilai rapor saja.

Tata cara perekrutan melalui serangkaian tes ini yang kemudian dinilai menjadi sebuah celah untuk dapat melakukan praktik kolusi antara pihak calon siswa dengan pihak penyelenggara penerimaan siswa baru. Bila dugaan ini benar, tentu citra dari smandel sendiri akan merosot.  Mengapa? Pertama,  bagi anak-anak yang terkualifikasi secara akademik namun tak “bermodal” akan tergeser haknya oleh anak-anak yang secara akademik tergolong rendah namun berasal dari golongan kaya. Dengan praktik seperti itu, kesempatan bagi seorang siswa berprestasi namun miskin akan kian meredup. Imbasnya, mereka hanya bisa survive di sekolah-sekolah non unggulan. Kedua, kualitas siswa-siswa yang bersekolah di sana pun juga akan menurun, karena ada dari mereka yang diterima dengan cara-cara yang curang. Mungkin dulu smandel boleh berbangga hati karena mencetak banyak lulusan yang berprestasi: lulus Ujian Nasional (UN) seratus persen, diterima di berbagai Perguruan Tinggi bergengsi di Indonesia bahkan di luar negeri, memenangkan berbagai perlombaan hingga olimpiade, menjadi pemimpin-pemimpin besar, macam-macam. Sekarang, apakah prestasi tersebut masih mampu dipertahankan lebih lama lagi oleh Kepala Sekolah beserta jajarannya?

Bangunan-bangunan di smandel boleh saja berdiri dengan megahnya, namun itu takkan berarti bila prestasi sekolah semakin rubuh. Fasilitas-fasilitas di smandel boleh saja istimewa sempurna, namun itu takkan berarti bila tiada peluang bagi anak-anak miskin untuk turut serta merasakannya. Guru-guru di smandel boleh saja berkompeten, tapi apa guna bila yang diajar sekelompok murid nan pongah.

Besar harapan penulis agar smandel tetap terjaga kualitasnya serta selalu diperhitungkan sebagai sekolah yang tak hanya bergengsi, namun juga penuh prestasi. Tidak sampai disitu, smandel wajib membuka peluang yang selebar-lebarnya bagi mereka yang berprestasi untuk mengenyam pendidikan di sana, tanpa harus memandang status sosial ekonominya. Ingat, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Salam.
Read More

Rabu, 07 November 2012

Satu Tahun di Hari Ini--Abaikan


Hari ini, tepat tanggal 7 November 2012. Di satu tahun yang lalu, ada kurang lebih 261 orang berkawan duduk rapi di dalam auditorium Gedung 1 Lantai 10 kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat, Jalan Dr. Sutomo. Beberapa jam usai briefing, satu persatu dari kami “digembalakan” ke berbagai subject matter, ke dalam banyak ruang. Namun sebelum kududuki sebuah meja kerja di pojok ruangan, seorang sahabat membisikiku, “MAGANG akan segera dimulai.”

Dan sekarang, setahun telah berlalu. Aku masih disini, duduk-duduk di sebuah meja kerja di pojok ruangan, menghadap jendela. Setahuku, di sepanjang hidup ini, mungkin di setahun belakangan inilah yang menjadi sedikit tersia-siakan. Dikatakan sedang belajar menuntut ilmu tidak pula, karena tak banyak rasanya pengetahuan yang berhasil diteguk di sepanjang waktu itu. Dianggap bekerja mengais nafkah juga bukan, karena dengan uang bayaran yang sejuta itu masih belum mampu untuk menutup mulutku agar tak lagi meminta-minta kepada ibu dan bapak.

Bila diibaratkan kuda pacuan, mungkin aku sudah mati lemas duluan karena tali kekang tak kunjung dihela joki. Semua tak pernah tahu, kapan balapan kuda itu akan dimulai, kapan anak-anak lulusan STIS 2011 itu akan dilepas ke perantauannya, kapan orang tua-orang tua kami akan berkibar rasa bangganya ketika tahu bahwa kami telah resmi menjabat sebagai pelayan negara, kapan?

Di satu tahun ini, dapat saya simpulkan bahwa kesialan tengah merundungku dan teman-teman seangkatan. Rugi tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, setahun ini tak lebih dari sebuah perjalanan melintasi lorong gelap. Namun begitu, pelan-pelan tak sedikit dari kami yang mampu membasuh linangan kesedihan yang diperagakan air mukanya agar dapat bangkit dan menyusun kembali kepingan-kepingan impian mereka. Layar yang semula kecut dihembus angin badai perlahan garang menantang ombak.

Begitu hebatnya mereka, tak peduli lagi dengan “bercandaan” induk-induk pemerintahan yang mengabaikan mereka sejauh ini, tapi semangat mereka untuk tetap berpacu dengan takdir terus nyata. Saya berharap dan juga meyakini, semoga di hari nanti akan ada terlahir pemimpin institusi ini dari golongan kami, empat sembilan (49-red).

Salam.
Read More

Senin, 05 November 2012

Faktor Negatif untuk Keberhasilanmu


Setiap orang tentu ingin meraih kesuksesan di masa hidupnya. Tak ada orang yang tidak menginginkan kesuksesan. Sebenarnya, ada banyak faktor yang mampu menjembatani keinginan kita tersebut, baik itu yang bersifat positif, atau bahkan yang bersifat negatif sekalipun.

Untuk yang positif, mungkin kita mengenal berbagai faktor semisal dukungan dari orang-orang sekitar, bayang-bayang reward yang akan kita terima ketika kita sukses nanti, atau bahkan kelebihan-kelebihan yang kita miliki. Dengan ketiga hal tersebut, kita memiliki peluang untuk meraih kesuksesan yang didamba.

Bagaimana dengan faktor yang bersifat negatif? Adakah? Jawabannya: ada!

Pertama, kegagalan.

Hampir setiap orang sukses pernah menemui faktor negatif yang pertama ini. Kebanyakan orang yang sukses umumnya akan melewati masa-masa ketidaksuksesan mereka. Mereka terlebih dahulu menemui berulang kali kegagalan untuk kemudian meraih apa yang mereka impikan.

Dari setiap kegagalan, orang-orang akan belajar banyak hal. Ketekunan, kerja keras, pembentukan mental yang kuat, dan berbagai hal lain. Seseorang baru akan merasakan bagaimana nikmatnya sebuah keberhasilan ketika ia meraihnya dengan didera kendala dimana-mana sebelumnya.

Namun, bukan berarti untuk meraih kesuksesan kita diharuskan untuk melewati kegagalan terlebih dahulu. Konklusinya, orang yang pernah gagal itu punya jalan yang lebih lebar dan terang untuk sampai kepada sebuah kesuksesan.

Kedua, diremehkan.

Biasanya, orang yang diremehkan itu memiliki motivasi yang lebih besar. Tak jarang, sebuah kesebelasan sepakbola semenjana mampu menaklukkan tim besar. Hebat kan?

Setiap kubu yang diremehkan memiliki kekuatan dua kali lipat lebih besar daripada kubu lainnya. Berkat diremehkan, seseorang akan menjadi memiliki motivasi yang berlipat guna meraih pembuktian bahwa ia bisa berhasil.

Sederhananya, bila seseorang merasa diremehkan, maka akan timbul motivasi yang kuat, terbentuk power yang tinggi, dan pada akhirnya akan semakin memudahkan ia untuk menggapai keberhasilan. Jadi berhati-hatilah, jangan sesekali meremehkan seseorang yang keadaannya jauh lebih tidak beruntung dari Anda, karena akan menjadi semakin besar pula peluangnya bagi mereka untuk melampaui kesuksesan yang Anda miliki saat ini.

Ketiga, minoritas.

Menjadi bagian minoritas memang tidak menyenangkan. Menjadi orang bodoh di dalam lingkungan orang-orang cerdas tentu akan menjadi sebuah bencana pada awalnya. Namun ketahuilah, bila kita mau belajar dari orang-orang yang cerdas ini, bagaimana cara mereka agar bisa menjadi cerdas, apa saja yang mereka lakukan, kebiasaan-kebiasaan baik apa yang sering mereka kerjakan, bukan tidak mungkin pula kita juga bisa menjadi cerdas seperti mereka.

Dengan kita menghadiri sebuah seminar, berarti secara tidak langsung kita telah menempatkan diri kita sebagai bagian dari kelompok minoritas–dalam hal ini kelompok yang minim pengetahuan terhadap tema yang akan diseminarkan. Namun setelahnya, tentu kita akan merasakan banyak manfaat atas menghadiri seminar tersebut. Wawasan kita akan semakin luas, pengalaman akan bertambah. Bila keduanya mampu kita raih, sudah tentu keberhasilan akan semakin mendekat, bukan?

Ingat, pada masa dahulu kaum Yahudi adalah bagian dari minoritas. Seiring berjalannya waktu, kini kekuatan mereka benar-benar diperhitungkan dunia luas!

Keempat, keterbelakangan.

Banyak pengusaha-pengusaha atau bahkan orang-orang sukses yang berangkat dari kemiskinan. Kita ambil contoh Chairul Tanjung, Merry Riana, Dahlan Iskan, dan masih banyak lagi. Namun ironinya, sebenarnya lebih banyak lagi orang miskin yang tak berdaya melawan kemiskinan yang tengah menderanya. Hanya sebagian kecil orang yang mampu melewati masa-masa sulit itu.

Salah satu dari sedikit orang itu ialah Basrizal Koto (Basko). Dulu, ayahnya hanya sebagai seorang buruh tani. Pendidikannya pun ia jalani hingga sebatas kelas lima SD. Ia berkesimpulan bahwa kemiskinan harus dilawan, bukan untuk dinikmati. Dan kini, ia telah menemui jalan kesuksesannya dengan mengelolai belasan perusahaan.

Keterbelakangan ini bukan hanya sebatas untuk orang-orang miskin, tapi tercakup juga di dalamnya bagi mereka yang terlahir cacat, dan lain sebagainya.

--

Faktor-faktor kesuksesan itu bukan untuk dicari, tapi ditumbuhkan. Karenanya ia tidak hanya hadir di dalam setiap hal-hal positif, namun juga akan muncul di dalam hal-hal negatif bila kita mau berusaha untuk mewujudkannya. Semua perihal pasti memiliki hikmah. Sekarang tergantung kepada kita, apa kita mampu menjadikannya sebagai sebuah pelajaran yang berharga, atau hanya dijadikan sebagai sebuah penguat alasan untuk kehidupan yang biasa-biasa saja.

Salam.
Read More

Rabu, 10 Oktober 2012

Tidak Ada yang Salah dengan Menjadi Seorang PNS


Tulisan ini berangkat dari sindiran-sindiran masyarakat luas yang ditujukan kepada para insan Pegawai Negeri Sipil (PNS) atas merosotnya citra mereka di mata masyarakat. Mudah-mudahan kalian yang pernah dan baru mau akan mengkritik pedas insan-insan PNS sedikitnya dapat tercerahkan atas adanya tulisan ini. Aamiin.

Sebuah Pekerjaan “Menantang” Bernama PNS

Menurut hemat saya, hanya ada dua jenis pekerjaan yang terkelompokkan berdasarkan sumber pendapatan yang mereka terima. Pertama, pekerjaan yang digaji langsung bersumber dari kas negara, dan yang kedua ialah selain dari pada itu. PNS masuk ke dalam golongan yang pertama, turut serta di dalamnya Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Tentara Negera Indonesia (TNI), dan lain-lain.

Upah yang diterima setiap bulannya oleh para PNS ini bersumber dari kas negara yang terkumpul berkat “patungan” rakyat lewat pungutan pajak. Jadi, kalau boleh diperjelas, bisa kita tarik kesimpulan seperti ini: rakyat menggaji PNS. Di sini jelaslah sudah bahwa tanggung jawab utama PNS itu ditujukan kepada negara, kepada rakyat, kepada mereka-mereka yang telah memberi upah. Tanggung jawab yang patut diemban insan PNS kepada rakyat terwujud melalui pelayanan serta pengabdian yang optimal. Tapi, apa benar itu sudah terwujud?

Nah, ini yang menjadi sebab musabab timbulnya citra negatif yang diperoleh PNS dari masyarakat luas. Tidak bisa dipungkiri memang kenyataannya masih ada oknum-oknum “nakal” PNS yang tak berintegritas sama sekali. Tak perlulah kiranya saya menguraikannya satu-persatu. Tapi, saya mengakui hal itu.

Yang perlu saya ketengahkan pula di sini ialah, tidak cuma PNS yang memiliki kekurangan tersebut. Kalau boleh jujur, mungkin semua jenis pekerjaan pasti memiliki masalah dengan intergritasnya masing-masing. Contohnya, seorang pedagang beras yang terbukti curang dengan memainkan timbangannya, atau pengusaha kelas atas yang terlibat ke dalam praktik kolusi bersama-sama pejabat pemerintahan. Jangankan itu kawan, seorang guru mengaji saja tak akan pernah luput dari kekhilafan.

Bedanya, pedagang, pengusaha, dan guru mengaji tidak dibayar oleh negara. Sedangkan PNS, ya. Itu sebenarnya yang menjadikan PNS sebagai target tembak yang sangat “empuk” bagi para kritikus, jauh lebih “empuk” dari jenis pekerjaan yang lain–selain PNS, Polri, TNI, dll–. Karena itu saya katakan sebelumnya bahwa PNS itu ialah sebuah pekerjaan yang “menantang”. Ianya memegang tanggung jawab bukan secara parsial kepada individu per individu, tapi secara simultan kepada segenap rakyat Indonesia.

Jadilah Abdi Negara yang Berkompeten

Ada sekitar 4 jutaan PNS yang tersebar di pelosok negeri ini. Bila satu persatu individu PNS ada saja yang terungkap terbukti melakukan hal-hal negatif yang berkaitan dengan jabatan pekerjaan yang tengah diembannya, tentu hal ini secara tidak langsung turut mempertebal ketidaksimpatikan kalangan masyarakat terhadap PNS itu sendiri. Ingat, pekerjaan PNS tercap sebagai sebuah kesatuan pamong di mata masyarakat. Jadi, cemoohan kepada satu pihak PNS yang tak terpuji sering kali dirangkaikan dengan pernyataan yang menggeneralisir. Perlu dicamkan pula bahwa sebenarnya jauh lebih banyak PNS yang memiliki kompeten mumpuni, penuh integritas, betul-betul mengabdi, daripada oknum-oknum “nakal” tadi. Untuk di BPS saja misalnya, ada banyak arena “menyabung nyawa” yang pernah dilakoni insan-insan PNS di dalamnya yang bisa anda sekalian saksikan hanya demi mendapatkan secarik kertas berisi data.

Kepada setiap aparatur negara wajib kiranya merapatkan barisan, bekerja sama dalam memenuhi sebuah komitmen akan pemantapan kualitas diri masing-masing, agar penilaian-penilaian miring yang ditujukan akan semakin surut atau bahkan sunyi ditelan prestasi. Perlu pula bagi setiap PNS untuk menimang terlebih dahulu apa baktinya sudah cukup pantas dibayar mahal oleh negara, apa dirinya masih layak memangku pekerjaan sebagai abdi negara? Dan pula kalau seorang pemain sepak bola bisa dibayar milyaran rupiah dalam setiap pekan karena kian impresifnya penampilannya di lapangan, tentu tidak akan menjadi masalah apabila kesejahteraan PNS benar-benar terjamin kalau diikuti pula dengan pelayanan yang apik serta kinerja yang baik, ya kan? Di sini diperlukan hukum kesamaan hak dan kewajiban dalam menjawabnya.

Sementara bagi kalian yang mengagung-agungkan perubahan dalam tatanan negara ini, saya mengundang anda untuk berkarir menjadi abdi negara, salah satunya PNS. Dengan menjadi PNS, setidaknya kontribusi pemikiran anda dapat berwujud nyata dalam berbagai kebijakan yang anda jalankan di dalam suatu sistem pemerintahan. Di sana, campur tangan anda akan berlaku, dan itu lebih berarti daripada ketika anda hanya bisa duduk-duduk santai di kursi goyang sambil sibuk mengkritisi sana-sini. Saya yakin, apabila aparatur negara ini dijabat oleh orang-orang yang kritis dan penuh gairah dalam menuntut perubahan pemerintahan ke arah yang lebih baik, maka tak lama lagi kita akan bisa sama-sama melihat kemajuan negara ini.

Penutup

Tidak ada yang salah dengan PNS di Indonesia, tidak ada pula salahnya berkarir dengan menjadi seorang PNS. Yang salah itu hanya segelintir oknum PNS yang miskin kualitas. Karena yang segelintir itu, reputasi baik yang ditorehkan serta pengabdian yang membumbung yang pernah dilakukan oleh insan PNS lainnya seakan tak pernah terendus oleh masyarakat. Tidak adil memang. Tapi begitulah kehidupan, seseorang akan lebih mudah menghafal keburukan-keburukan orang lain daripada kebaikan-kebaikan yang pernah ditampilkan orang itu.

Yang menjadi persoalan adalah kalau sampai masyarakat sudah tidak lagi percaya terhadap PNS dan mendiskreditkannya, maka negara ini mau dijalankan oleh siapa? Pihak swasta? Sekian.

Salam.
Read More

Kamis, 20 September 2012

Karena Pilkada


Hari ini (20/09/12) Jakarta tengah melangsungkan pesta demokrasinya guna menentukan siapa yang berhak memimpin ibukota dalam jangka waktu lima tahun ke depan. Saking “meriah”-nya, pesta itu tidak cukup dihelat satu putaran.

Bak di dalam sebuah turnamen sepakbola, laga yang berlangsung di tanggal 11 Juli nan lalu baru sampai pada ajang kualifikasi. Barulah pada hari ini, dua kubu yang berhasil lolos akan beradu kuat di babak final. Mereka adalah: Foke-Nara dan Jokowi-Basuki.

Sekarang, mari kita singkirkan dulu jauh-jauh ulasan serta prediksi kita mengenai siapa yang akan menjadi pemenang pada ajang pilkada DKI kali ini. Sebetulnya ada sebuah hal yang sedikit mengecewakan saya atas diberlangsungkannya perhelatan pilkada DKI putaran ke dua di hari ini.

Entah karena minimnya lahan kosong atau bagaimana, hari ini banyak sekali saya jumpai Tempat Pemilihan Umum (TPU) yang sengaja dibangun di atas jalan. Akibatnya, jalan-jalan yang biasanya dapat dipergunakan untuk sementara harus terputus. Tentu sedikitnya hal ini mampu mengurangi rasa kenyamanan warga sebagai pengguna jalan. Akibat akses yang terhambat, dapat menyebabkan waktu menjadi terbuang sia-sia.

Inilah yang saya alami tadi siang. Setidaknya ada empat buah TPU yang menyebar di jalan-jalan di sekitar tempat saya tinggal. Dengan adanya keempat TPU yang menghambat jalan itu saja, perjalanan saya yang tak sampai dua kilometer bisa memakan waktu tempuh hingga lebih kurang dua puluh menit dengan kendaraan bermotor. Lewati jalan yang biasa-ketemu TPU-mutar lewat gang-ketemu lagi TPU-masuk gang lagi-TPU lagi-dan seterusnya, sampai akhirnya saya sampai di tempat tujuan.

Sejujurnya saya kecewa dengan hal ini. Mungkin orang lain juga akan sependapat dengan saya. Ada baiknya hal ini patut dicermati bagi setiap elemen yang turut berkecimpung di dalam pelaksanaan pemilihan umum, agar tidak terulang lagi di lain kesempatan. Bukankah hingar-bingarnya sebuah pesta hendaknya tidak sampai mengusik kenyamanan orang lain?

Salam.
Read More

Minggu, 09 September 2012

Kurang Sedikit Saja, Pekanbaru


Jumat (10/08/2012) lalu, saya datang berkunjung ke kota kelahiran saya, Pekanbaru. Kedatangan saya kali ini dalam rangka mengisi liburan bulan suci Ramadhan dan juga sekaligus perayaan Idul Fitri 1433 Hijriyah.

Sama dengan seperti yang telah saya duga sebelumnya, Pekanbaru banyak menghadirkan perubahan-perubahan dalam bidang pembangunan. Mulai sejak awal kedatangan, saya sudah dipertontonkan hasil pelebaran Bandara Sultan Syarif Qasyim II, yang konon nantinya akan naik level menjadi bandara berstandar internasional. Walau belum menginjak 100 persen rampung, namun proyek ini terus digesa sampai sebelum pelaksanaan PON XVIII di Riau pada bulan September mendatang digelar.

Decak kagum saya tak putus sampai di situ. Di beberapa kali kesempatan, saya mencoba menyusuri ruas-ruas jalan kota Pekanbaru. Pada kesempatan itu, tampak pula oleh saya dua potong fly over yang masing-masing membentang di antara Jalan Sudirman-Jalan Haji Imam Munandar serta Jalan Sudirman-Jalan Tuanku Tambusai. Keduanya memiliki panjang sekira 1 kilometer. Patut saya beri apresiasi lebih, karena jalan layang ini bisa disebut extraordinary. Karena, di sepanjang kedua jalan layang ini turut membentang pula ornamen-ornamen khas melayu sebagai penghias.

Dalam hati, saya bangga dengan kota ini. Pesat betul kemajuan yang ditunjukkannya. Apa yang ditampilkan kota Pekanbaru belakangan ini bak pengantin yang tengah sibuk bersolek. Karena di depan mata sudah akan banyak event yang tengah menanti.

--

Patah Arang

Pembangunan di Pekanbaru boleh saja kita banggakan. Namun ada sedikit pengalaman yang tampaknya mampu mengecewakan hati ini. Intinya, hiruk-pikuk pembangunan Pekanbaru belum diimbangi dengan pelayanan publik yang baik. Ini lah yang saya temui setidaknya di tiga lembaga/dinas di Pekanbaru. Masalah kurangnya kedisplinan waktu lah yang kerap menjadi perkara.

Sudah barang tentu ini menjadi sebuah problem yang patut dituntaskan, baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat luas yang menjadi quality control tentunya. Sebab, di dalam permasalahan ini terdapat keprofesionalitasan yang terabaikan. Tidak cuma di satu lembaga vital, namun tiga!

Berdasarkan pengalaman buruk tersebut saya menjadi khawatir, Pekanbaru tidak akan mampu menjadi tuan rumah yang baik dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan besar yang nantinya akan dihelat. Oke, kita mampu menyediakan berbagai fasilitas yang bisa mendukung atas terselenggaranya sebuah acara, tapi kalau dari segi pelayanan kita kurang cakap, tentu tidak baik pula bukan?

Ibarat tamu yang datang berkunjung, tentu harus dijamu sebaik mungkin. Penjamuan ini lah yang tak boleh sealakadarnya saja, atau bahkan malah hancur-hancuran. Marwah daerah ini akan terangkat bila kita berhasil menyukseskan setiap event yang digelar.

Untuk itu, belajar lah sepenuh hati dalam melayani seseorang. Lebih-lebih bila hal itu merupakan suatu kewajiban tugas yang ditunjukkan kepada kita. Bila Pekanbaru miliki keduanya–infrastruktur dan pelayanan publik yang mumpuni–saya yakin, tiap orang yang pernah berkunjung ke mari akan selalu merindui kota ini sepanjang jalan.

Salam.
Read More

© TUL[!]S, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena